Anak Milenial Mencoba Permainan Tradisional di Sindang Barang

 

Tidak semua anak milenial menghabiskan waktunya bersama gawai. Masih ada yang punya keinginan kuat melestarikan budaya bangsa. Kamis, 21 Maret 2019 kemarin, siswa-siswi SD-SMP Generasi Azkia, Bojongkulur, Gunungputri, Bogor beramai-ramai mendatangi Kampung Budaya di Sindang Barang, Bogor.

Kampung Budaya Sindang Barang merupakan salah satu destinasi wisata edukatif yang berada di wilayah Bogor. Kampung ini melestarikan dan memperkenalkan budaya Sunda kepada generasi muda. Aneka permainan tradisional, kesenian daerah, aktivitas keseharian masyarakat dengan alat-alat tradisional masih dapat kita jumpai di kampung ini.

Dalam bingkai “Kegiatan Tematik”, SD-SMP Generasi Azkia pada tahun ini menentukan Kampung Budaya Sindang Barang sebagai destinasi pembelajaran kepada peserta didiknya. Menurut Holifurrahman, M.Pd, Kepala SD Generasi Azkia, dipilihnya Kampung Budaya Sindang Barang sebagai destinasi kegiatan tematik kali ini, karena sekolah juga menginginkan peserta didiknya ikut melestarikan budaya bangsa sebagai warisan leluhur. “Kebudayaan itu merupakan aset dan kekayaan bangsa yang tiada duanya,” pungkasnya di sela-sela kegiatan.

Kepala SMP Generasi Azkia, Fauzi Rahmat Nugraha, S.Pd, menambahkan, “Di tengah derasnya hantaman permainan online dan teknologi canggih lainnya, kita harus tetap menyisakan ruang bagi karya, karsa, dan cipta bangsa kita sendiri. Jangan pernah melupakan budaya kita sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi?!”

Dalam kegiatan tematik ini, seluruh elemen sekolah turun ke lapangan, mulai dari Pelaksana Harian Yayasan Rahmah Nurulhaq Al-Ilmiyyah, ketua BKOG dan jajarannya, kepala sekolah, guru-guru, dan seluruh peserta didik. “Meskipun di lapangan sudah ada tutor di masing-masing kegiatan, namun kami harus tetap mengawasi dan memantau kegiatan,” kata Ibu Elly, ketua Pelaksana Harian Yayasan.

Rombongan keluarga besar SD-SMP Generasi Azkia sudah berkumpul di sekolah paling lambat pukul 05.30 pagi. Bus mulai berangkat ke lokasi kegiatan pukul 06.30. “Keberangkatan kita sedikit mundur, karena pengondisian siswa sebanyak 362 orang ini cukup memakan waktu. Belum lagi masih ada siswa yang datang terlambat. Maklum, beberapa peserta didik ada yang rumahnya cukup jauh dari sekolah,” kata Ustadzah Cita Rahmawati, SS selaku Wakasek Kesiswaan dan penanggung jawab kegiatan.

Sekitar pukul 08.45 seluruh peserta sudah berkumpul di lokasi. “Bus tidak bisa sampai ke lokasi. Jalannya sempit. Jadi, pihak pengelola Kampung Budaya Menyediakan angkot untuk membawa peserta didik ke lokasi. Ini juga menyebabkan keterlambatan, karena dari 41 angkot yang dijanjikan pengelola, ternyata waktu kami tiba di lokasi pemberhentian bus hanya terdapat sekitar 15an angkot. Peserta didik tidak bisa diangkut sekaligus, tetapi menunggu angkot yang sudah berangkat lebih dulu kembali lagi menjemput mereka,” kata Ustadz Endang Sutisna, S.Ag yang berada di kelompok rombongan angkot terakhir. Ketika hal ini dikonfirmasi kepada pengelola, mereka berdalih tidak bisa meminta angkot standby seharian karena cost-nya bisa mencapai dua ratus ribuan. Jadi, angkot yang mereka janjikan memang menyetop angkot yang ada di jalan.

Alhamdulillah, meskipun terjadi keterlambatan, rangkaian kegiatan berjalan lancar. Para peserta didik terlihat antusias mencoba aneka permainan dan ragam budaya Sunda. Diawali dengan kegiatan membuat wayang dari batang padi untuk kelas rendah, dilanjutkan dengan aneka permainan seperti gatrik, bakiak raksasa, engrang, dan lainnya, kemudian mencoba alat musik angklung, belajar dasar-dasar menari Jaipong, juga belajar dasar-dasar pencak silat. “Seruuu,” komentar Hanif siswa kelas IV seusai mencoba permainan bakiak raksasa bersama teman-temannya.

Kegiatan ditutup dengan makan siang dengan menu khas Sunda, dilanjutkan dengan salat Zuhur, kemudian menuju bus dan kembali ke sekolah.[@lif]

Photos: